Pertanyaan seperti diatas muncul dibenak saya ketika sekilas melihat reality show Saatnya Jadi Idola di RCTI dan Sing Like a Star di Global TV.
Di acara Saatnya Jadi Idola orang-orang dengan profesi yang sama akan adu kebolehan menyanyi dan seperti biasa akan dikomentarin panjang kali lebar sama dengan luas dan di polling lewat sms. Sing Like a Star kurang lebih sama juga sih, malah disini peserta yang hanya bermodalkan pede bisa bergaya layaknya penyanyi lalu dikomentarin dan di polling, duh.
Para peserta kedua reality show ini menurutku suaranya, maaf, ancur banget, tapi kok ya pede banget gitu lo.
Fenomena adu bakat menyanyi dimulai sejak era AFI, lalu ada Indonesian Idol yang lebih populer menggeser AFI hingga saat ini. Dan emang Indonesian Dodol Idol ini yang paling bermutu menurutku. Mungkin karena konsep acaranya sudah baku kali ya. Jadi masih dalam pakem mencari penyanyi yang benar-benar bisa menyanyi, ga asal buka mulut. Lalu berturut-turut sejak Indonesian Idol mengorbitkan Idol-Idolnya muncul ajang Idol-Idol serupa tapi tak sama. Kebanyakan terlalu mengumbar sisi lain calon idola yang mengundang simpati pengirim sms dukungan. Hingga terkadang penyanyi dengan suara pas-pasan tapi ‘melas’ lolos dan penyanyi yang benar-benar bagus suaranya tapi ga ‘melas’ malah ga lolos. Bingung.
Klo kayak gini terus tren-nya ya berabe. Semua orang asal pede atau bisa menarik simpati melalui kisah hidupnya bisa jadi penyanyi yang jika kontes berakhir hanya akan sekedar lewat di dunia musik Indonesia. Lalu buat apa? Menuh-menuhin layar TV aja. Yang paling diuntungkan ya penyelenggara acara yang akan mendulang banyak rupiah dari sms yang masuk. Sedangkan yang paling dirugikan ya generasi muda kita yang mulai dari kecil sudah bermimpi jadi idola, ampun deh.
twenty something, a mommy for Cecil and Rasyid, likes reading, watching movies, sleeping, and writing. And now, trying to do 3 different jobs at the same time, wish me luck :)





